Mengenal Tradisi Masyarakat Gresik di Penghujung Ramadhan

Dewan Kebudayaan Gresik

Dewan Kebudayaan Gresik

Mengenal Tradisi Masyarakat Gresik di Penghujung Ramadhan
Facebook
WhatsApp
Telegram
LinkedIn

Gresik selain terkenal sebagai Kota Santri dan Kota Industri, ternyata juga menyimpan banyak sekali kekayaan Tradisi. Bukan hanya tradisi yang berkembang di pusat kota saja, melainkan antara kampung ke kampung jika telusuri lebih dalam seperti sebuah lumbung yang menimbun banyak bahan makanan. Dan berikut ini tradisi masyarakat Gresik di penghujung bulan Ramadan.

1. Kedundangan

Ilustrasi Foto: Kedundangan

Kedundangan berasal dari penggabungan dua suku kata “dung” dan “dang”, yang diambil dari bunyi sebuah alat musik ketika ditabuh. Orang-orang lokal Lumpur menyebutnya dengan istilah “ dundang”, dan aktifitas atau peristiwa penabuhannya disebut “Kedundangan”. Biasanya itu berlangsung mulai malem 21 hingga 29 Ramadan.

Kedundangan sendiri hadir di tengah-tengah Masyarakat Lumpur sejak era para wali, yang secara filosofis memiliki peran seperti alarm atau pengingat bahwa Ramadan telah memasuki penghujung usia (malem likuran). Dengan diselenggarakan Kedundangan, itu artinya umat islam di Gresik harus bersiap diri semakin memperbanyak ibadah dan menggapai lailatul qadar.

2. Malem Selikuran

Ilustrasi Foto: Malem Selikuran

Selikuran merupakan Tradisi bertaqarrub kepada Allah SWT. yang diselenggarakan pada malam 21 (selikur) atau tepatnya pada tanggal 20 Ramadan. Tradisi ini berkembang sangat pesat di kalangan santri. Khususnya di Pon.Pes. Manbaus Sholihin, Suci – Manyar. Biasanya, di masjid-masjid atau musala di berbagai kampung melaksanakan tadarrus alQur’an, tetapi khusus pada malam selikur di kompleks Pon.Pes. Manbaus Sholihin justru mengadakan munajat dan doa bersama.

Malam Selikuran ini selain untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih Lailatul Qadar, juga diharapkan untuk kesempatan bermuhasabah / introspeksi diri, yakni dengan mengingat-ingat kesalahan masa lalu untuk diperbaiki sejalan kehidupan lebih baik di masa depan. Terlebih, pada momentum malam selikuran, kerapnya bersamaan dengan Haul para masyayikh dan para kiai, sehingga apa yang dimunajatkan pada malam itu diharap terkabul atas wasilah dan berkah dari para masyayikh._ (wallahu a’lam)

3. Ritukan

Ilustrasi Foto: Ritukan

Ritukan merupakan Tradisi membangunkan sahur masyarakat Ujungpangkah, di 10 hari terakhir bulan Ramadan. Nama Ritukan diambil dari kependekan “ritual ketuk Ramadan”, yang oleh masyarakat setempat digunakan untuk mengganti penyebutan “patrol”.

Ritukan tak jauh beda dari tradisi membangunkan sahur (patrol) pada umumnya, yakni dilakukan dengan suara alat musik yang meriah. Hanya saja, uniknya pada Ritukan adalah terdapat pada pawai-pawai seni-budaya (seperti jaranan, pencak macan, reog) dan dilakukan dengan melantunkan selawat saat membangunkan warga. Bagi masyarakat

Ujungpangkah, tradisi ritukan menjadi momen khusus untuk berkumpul dan menikmati 10 hari terakhir bulan Ramadan.

4. Sanggring

Ilustrasi Foto: Sanggring

Sanggring merupakan penamaan dari olahan kolak ayam yang diramu dengan beberapa rempah pilihan. Asal katanya adalah “sang” yang berarti Raja, dan “gring (gering) yang berarti sakit. Konon, masakan ini tercipta lantaran ada seorang tokoh (raja) berjuluk Sunan Dalem menderita sakit, dan tidak satupun obat dapat menyembuhkannya.

Baca juga:  Menjalani Malam Slawe Pada Bulan Ramadhan 1445 H

Maka kemudian melalui petunjuk dari gurunya, sang Sunan mendapat ilham untuk dibuatkan ramuan berupa kolak yang dicampur daging ayam. Maka dibuatkannya lah Sanggring itu dan kemudian penyakit yang dideritanya dapat sembuh seketika. Ramuan itu hingga kini kita kenal dengan sebutan “Sanggring”.

Selain menjadi Warisan Budaya Takbenda asal Kabupaten Gresik, kuliner ini juga dipercaya sebagai obat dari segala penyakit. Sehingga, sampai hari ini masyarakat Gresik (khususnya Desa Gumeno) masih terus melestarikannya, dengan harapan semoga siapa saja yang memakan Sanggring akan mendapat kesembuhan dari penyakit yang diderita.

5. Medher

Ilustrasi Foto: Medher

Medher merupakan tradisi masyarakat Desa Diponggo Kec. Tambak, Pulau Bawean. Tradisi ini diambil dari istilah berbahasa lokal “medher” yang berarti “berkeliling”. Yaitu, suatu aktifitas mengelilingi pulau Bawean dengan menggunakan beragam moda transportasi seperti sepedah pancal, mobil gerobak, atau bahkan ada yang jalan kaki. Dan uniknya, tradisi itu dilakukan dengan memasang atau mengibarkan bendera secara bersama-sama.

Tradisi Medher pada umumnya diselenggarakan pada waktu liburan perayaan hari besar Islam, seperti libur Lebaran, bulan Muharram, atau bahkan Agustusan. Selain dilakukan dengan berkeliling menggunakan moda transportasi (untuk liburan dsb), ada saatnya Tradisi ini dilakukan dengan pendekatan spiritual, yakni untuk ruwat desa, tolak balak, dan lain sebagainya. Orang Diponggo menyebutnya dengan istilah “Puya Hale”

Orang Bawean meyakini, Tradisi Puya Hale dan Medher ini merupakan salah satu warisan budaya dari Mbah Waliyah Zainab, salah seorang tokoh penyebar agama Islam perempuan di Pulau Bawean tempo dulu yang dikenal sakti dan memiliki keampuhan dalam menolak bala. Oleh karena itu, masyarakat Bawean senantiasa melestarikan tradisi Medher dan Puya Hale ini.

6. Malem Slawe

Ilustrasi Foto: Malem Slawe

Malem Slawe adalah Tradisi khas bulan Ramadan di Kabupaten Gresik, yang dimaknai sebagai perburuan Lailatulqadar. Tradisi Malam Slawe dilaksanakan pada malam 25 (atau tepatnya ramadan hari ke-24) bulan Ramadan, bertempat di kawasan Makam Sunan Giri.

Tradisi Malam Slawe ini sudah berlangsung turun temurun, yakni sejak zaman Sunan Giri, di mana ia mengajak para Santrinya untuk beribadah dengan Iktikaf di masjid Giri dengan harapan mendapatkan berkah malam Lailatulqadar. Selain ber-I’tikaf dan ziarah ke makam, ibadah yang dilakukan dalam tradisi Malam Selawe diantaranya yakni melaksanakan Salat Tasbih, berdzikir dan membaca Al-Qur’an di Masjid Giri dengan tujuan untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT. Meski kini sudah mengalami pergeseran laku dan makna, tetapi bersyukur Tradisi Malem Slawe masih dilestarikan.

7. Pasar Bandeng

Ilustrasi Foto: Pasar Bandeng

Siapa yang tak kenal dengan tradisi masyarakat Gresik yang satu ini. Sebab, tradisi satu ini hadi di tiap bulan Ramadan. Hampir tak satupun orang Gresik ingij melewatkannya. Tetapi, meski sudah mengikuti tradisi sejak lama, apakah kita sudah mengenal betul dengan tradisi yang satu ini? Kita perlu mengenal lebih dalam tentang tradisi Pasar Bandeng dengan segala sesuatunya.

Baca juga:  Tradisi Lokal Saat Lebaran di Kabupaten Gresik

Pasar Bandeng Gresik merupakan Pasar Tradisional yang ada sejak abad ke-15, yakni bermula dari kebiasaan para santri Sunan Giri yang hendak mudik (pulang kampung) ke daerahnya masing-masing. Entah itu berasal dari pulau seberang, atau pun dari dalam daerah sendiri, para santri itu selalu menyempatkan membawa oleh-oleh khas Gresik berupa ikan bandeng untuk dibawa pulang.

Bermula dari kebiasaan para santri yang membawa oleh-oleh berupa ikan bandeng dari Gresik itulah kemudian muncul seuatu tradisi yang kita kenal dengan Pasar Bandeng.

Pasar Bandeng sendiri seiring berjalannya waktu telah menjadi kebutuhan masyarakat Gresik. Bukan saja dalam hal tradisi peninggalan leluhurnya itu, tetapi sudah masuk ke ranah peningkatan ekonomi warga yang mayoritas nelayan tambak.

Tersebab menjadi kebutuhan masyarakat dan berakar pada sejarah peninggalan Sunan Giri, maka Pasar Bandeng diselenggarakan secara rutin pada setiap tahun. Yakni tepatnya pada malam 27 – 29 Ramadan, dengan berbagai rangkaian seperti kontes bandeng kawak dan lain sebagainya. Sekali lagi, kesemuanya itu untuk meningkatkan daya hidup manusia Gresik dan melestarikan warisan budaya para leluhur.

8. Zikir Saman

Ilustrasi Foto: Zikir Saman

Zikir Saman Sampurnan merupakan tradisi berzikir kalangan santri dan masyarakat sekitar Bungah, pada puncak bulan Ramadan. Zikir Saman menjadi Tradisi di Sampurnan dibawa oleh Mbah Kiai Ismail, salah seorang pengasuh PP. Qomaruddin, Bungah. Kegiatan Zikir Saman ini setiap tahunnya diselenggarakan pada malam 29 Ramadan.

Dipilihnya malam 29 ini juga bukan tanpa alasan. Menurut Tokoh-Tokoh Pesantren Qomaruddin, Zikir bernuansa ritual ini dilaksanakan pada malam 29 Ramadan adalah untuk menggeser kebudayaan (counter culture) terhadap tradisi Kontes Bandeng Kawak di Gresik, yang (dianggap) membuat para warga lalai dari taqarrub kepada Allah SWT dan upaya meraih Lailatul Qadar. Padahal Ramadan sudah di ujung usia.

Zikir Saman Sampurnan berbeda dari zikir saman di lain tempat. Jika di lain tempat Zikir Saman bisa dilakukan dengan gerakan tari atau isyarat tubuh lainnya, di Sampurnan Zikir Saman dilakukan dengan khusyu’ dan dalam keadaan gelap.

Itulah beberapa tradisi masyarakat Gresik pada malem Likuran atau penghujung bulan Ramadan. Dengan mengetahui tradisi-tradisi tersebut berikut filosofi dan muasalnya, diharapkan warisan budaya tersebut tetap terjaga dan lestari, di tengah gempuran globalisasi dan modernisasi zaman. Lestari budayaku, rahayu !

 

Oleh : M. Lutfi

Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]
Facebook
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar Terbaru

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    🔔 TERKINI

    🔔 INSTAGRAM DKG

    🔔 FACEBOOK DKG

    Arsip
    Kategori

    Dewan Kebudayaan Gresik

    Piye Kabare Dulur ..................