Mengenal Kuliner Khas Gresik di Bulan Ramadhan

Dewan Kebudayaan Gresik

Dewan Kebudayaan Gresik

ilustrasi makanan khas daerah. Sumber foto: Freepik
Facebook
WhatsApp
Telegram
LinkedIn

Kuliner merupakan salah satu produk kreatif yang di dalamnya menyimpan beberapa unsur objek kebudayaan. Salah satu di antaranya terdapat unsur Pengetahuan Tradisional bahkan Teknologi Tradisional. Dan dewasa kini, kuliner juga menjadi sub-sektor dari 17 sektor ekonomi kreatif.

Gresik adalah suatu kawasan yang (bisa dibilang) sangat kaya akan ragam kuliner. Tentu keberadaannya tak luput dari pengetahuan-pengetahuan leluhur, sehingga menjadi sebuah produk yang khas dan bisa dinikmati banyak orang. Seperti Sanggring, Nasi Krawu, Pudak, Kopi Kasar, otak-otak bandeng, dan masih banyak lagi lainnya. Tetapi, kuliner khas Gresik tentu tidak hanya itu-itu saja. Barangkali ada banyak lagi macam kuliner yang belum kita ketahui. Terlebih kuliner tradisional yang berasal dari kampung-kampung atau wilayah yang jauh dari Kota Gresik.

Berikut adalah kuliner tradisional khas Gresik yang dapat kita temukan hanya pada bulan Ramadan :

1. Kolak Ayam Sanggring

Sudah tak asing lagi kita ketahui makanan atau kuliner satu ini. Kolak ayam khas Gresik hanya bisa dijumpai saat Ramadan, tepatnya disajikan setiap hari ke 22 puasa atau malam 23 ketika buka puasa.

Dalam proses pembuatannya, kolak ayam Sanggring biasanya dimasak sekaligus dalam porsi besar dan sudah jadi tradisi rutin setiap tahunnya. Bahan-bahan yang dibutuhkan di antaranya ada 250 ayam kampung, 35 kg jintan, 700 kelapa untuk santan, 2 kuintal daun bawang merah, 5 kuintal gula jawa dan 400 kg beras ketan. Dari komposisi itu, siapapun yang mencicipinya akan merasakan sensasi hangat bercampur legit kental dengan aroma rempah.

Selain pembuatan secara royal, dalam tradisi pembuatan kolak ayam khas Gresik semua juru masaknya juga harus laki-laki. Hampir tidak pernah ditemukan juru masak Sanggring dari kalangan perempuan. Hal ini dikarenakan sejarah muasal Sanggring memang disyaratkan demikian, lantaran sesungguhnya kuliner ini adalah ramuan obat untuk penyembuhan sakit yang diderita oleh seorang tokoh yang sedang menderita sakit dan tidak ditemukan obatnya kecuali dengan kolak ayam Sanggring. Dan uniknya lagi, tradisi pembuatan kolak ayam pada malam ke 23 Ramadan ini hanya dilakukan di satu desa yaitu Desa Gumeno, Kecamatan Manyar.

2. Bongko Kopyor

Bongko Kopyor merupakan satu di antara takjil khas Gresik yang terbilang langka. Dikatakan demikian karena Bongko Kopyor hanya bisa dijumpai saat Ramadan. Di luar Ramadan, bongko kopyor akan sulit ditemukan, meski cara membuatnya terbilang cukup mudah. Kelangkaan bongko kopyor di luar Ramadan tak lepas dari peran buah nangka yang juga termasuk jenis buah musiman.

Kata “bongko kopyor” sendiri berasal dari singkatan kata “bubur nangka” dan “kelapa kopyor.” Sumber lain mengatakan, bahwa Bongko Kopyor berasal dari kata “bongko” yang berarti dibungkus, dan “kopyor” artinya daging kelapa yang hancur. Orang-orang terdahulu mengucapkannya cenderung dengan pelafalan “bungko”, daripada “bongko”.

Sesuai namanya, bongko kopyor terdiri dari potongan roti tawar, serutan kelapa muda, pisang raja, nangka, kolang-kaling, bubur mutiara, dan santan yang dikukus dengan balutan khas daun pisang. Bongko Kopyor mirip dengan jajanan Srikoyo, hanya berbeda dalam kemasan dan teksturnya.

3. Arang-Arang Kambang

Arang-Arang Kambang namanya. Mungkin tidak sepopuler dua hidangan khas Gresik sebelumnya. Hal ini lantaran Arang-Arang Kambang terbilang mulai langka dan mungkin hanya bisa ditemui saat Ramadan.

Bahan dalam membuat Arang-Arang Kambang di antaranya yaitu ketan putih, ketan hitam, irisan pisang dan tape ketan berwana hijau. Sebelum membuatnya, tape ketan biasanya harus difermentasi lebih dulu selama 3 hari. Proses fermentasi yang cukup lama inilah yang membuat pejaja arang arang kambang sulit ditemukan.

Selain itu, dalam membuat Arang-Arang Kambang yang enak juga ada satu mitos tersendiri. Konon fermentasi tape ketan harus dilakukan oleh perempuan suci atau yang tidak sedang datang bulan. Jika diolah oleh perempuan yang sedang haid, maka akan ada sedikit noda mirip darah pada tape yang dihasilkan. Persis keyakinan orang jawa pada umumnya.

Hidangan tradisional khas Gresik satu ini terlihat mirip seperti kolak dengan cita rasanya yang manis. Sehingga layak disantap ketika buka puasa atau dijadikan menu takjil di bulan Ramadan.

4. Bubur Waduk

Bubur Waduk merupakan kuliner yang hanya bisa dijumpai saat Bulan Ramadan di Kelurahan Trate, Gresik. Kuliner ini merupakan perpaduan antara bubur putih dan kuah santan. Rasanya gurih, asin, dan pedas.

Kuliner khas Gresik tersebut berasal dari bahan yang mudah didapat. Bubur dibuat dari beras putih dengan tambahan santan, seledri, bawang putih, dan sedikit garam. Sementara waduk merupakan kuah santan yang diolah dengan aneka bumbu seperti ketumbar, cabai, bawang, lengkuas, dan kemangi. Selain itu, ada tambahan parutan kelapa muda dengan irisan cecek atau kulit sapi, tempe, tahu, serta udang.

5. Bubur Masin

Rupanya selain Sanggring, Bongko Kopyor, Bubur Waduk, dan beberapa makanan tersebut di atas, satu lagi makanan tradisional khas Gresik yang langka dan muncul hanya saat bulan puasa Ramadan adalah Bubur Masin. Bubur dengan cita rasa asam, pedas, gurih dan berbau unik khas kemangi ini banyak diburu saat bulan suci Ramadan.

Sajian lezat berbahan jagung yang kaya rempah ini terbuat dari bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit, belimbing wuluh, lengkuas, daun jeruk, daun kemangi, santan, dan jagung yang telah dihaluskan. Biasanya, sajian unik tersebut disajikan bareng kerupuk udang kriuk. Citarasanya menyatu antara gurih, asam, asin, manis, namun menyegarkan dan lezat.

Pada hari biasa, bubur masin ini sangat jarang ditemui. Sebab makanan khas tersebut tidak mudah dibuat. Adanya dimungkinkan hanya pada bulan Ramadan. Citra rasanya yang kaya rempah itu cocok disantap untuk menu makan sahur atau buka puasa.

6. Tetel Bumbu

 

Tetel Bumbu (pakai ejaan Taling dalam kaidah bahasa Jawa) atau dalam bahasa kasarnya orang Gresik disebut juga “Katul Teplok” merupakan olahan kuliner yang hanya ada di bulan Ramadan.

Mirip seperti Bongko Kopyor dalam kemasannya, tetapi dalamnya berisi bubur beras berwarna putih yang teksturnya sedikit cair dan terasa legit. Bubur tersebut menutupi olahan katul atau tetel (mirip apem) yang sudah matang dan berupa irisan.

Masakan ini hanya bisa didapatkan pada bulan puasa Ramadan, persis seperti Bongko Kopyor. Hanya saja jika Bongko Kopyor tersedia di hampir banyak tempat di Gresik, Tetel Bumbu ini hanya bisa didapat di kawasan Kecamatan Manyar. Makanan ini sangat cocok dimakan saat berbuka puasa.

7. Setup Gedang

Setup merupakan hidangan bangsa Belanda yang sangat digemari oleh banyak kalangan. Tidak terkecuali di Kabupaten Gresik. Di Gresik, kuliner ala-Belanda ini kerap ditemui berbahan pisang dan beraroma rempah. Sehingga banyak orang menyebutnya Setup Gedang.

Setup Gedang adalah minuman dengan tambahan pisang dan menjadi salah satu favorit untuk berbuka puasa oleh umat muslim. Pisang yang digunakan biasanya pisang gepok. Sehingga dalam istilah lain, minuman ini juga disebut Kolak Pisang Gepok.

Untuk bahannya, minuman ini terdiri dari irisan pisang gepok setengah matang dan rebusan air yang dicampur dengan kayu manis, cengkeh, dan gula. Juga setelah siap saji, Setup bisa ditambahkan daun pandan.

Meski sebenarnya pisang yang matang juga bisa digunakan, hanya saja akan lembek ketika direbus. Maka sesungguhnya menu ini selain disajikan dalam bentuk minuman hangat (wedang), juga bisa diseduh menjadi minuman dingin (es). Sayangnya, minuman ini jarang laku di pasaran. Mungkin karena mudah membuatnya, atau memang dirasa kurang bisa memberi tawaran nilai ekonomis. Padahal, minuman ini sangat khas dan kaya akan manfaat.

8. Madu Mongso

 

Madu mongso adalah cemilan manis legendaris khas Jawa. Biasa dibuat ketika ada perayaan seperti manten atau hari raya. Di Gresik, cemilan ini menjadi menu istimewa yang diburu menjelang hari raya idul fitri atau pada 10 hari terakhir di bulan Ramadan.

Selain menjadi menu khas pada malam likuran atau pada hari raya, yang paling menarik dari olahan ini ada pada proses membuatnya. Bukan saja proses pengolahannya, bahkan pada fase packing atau tahap pembungkusannya yang juga butuh ketelatenan. Bisa-bisa ngumpulin keluarga besar kalau pingin lekas tuntas.

Tetapi, Madu Mongso Gresik ini berbeda dari madu mongso di daerah lain. Sebab, di Gresik, Madu Mongso berbahan tape ketan, gula jawa, gula pasir, santan kelapa tua, kelapa muda parut, dan daun pandan. Kesemuanya bahan tersebut diolah penuh ketelatenan dan melalui proses pembuatan yang membutuhkan kesabaran. Cocok untuk digunakan pelengkap metode latihan sabar di bulan puasa.

Uniknya lagi, kalau di lain daerah Madu Mongso tidak menggunakan bahan campuran kacang. Di Gresik, rata-rata dicampuri kacang tanah yang khas. Terkadang malah ada yang menambahkan mente. Jadi rasanya makin khas, unik berikut dengan bungkusnya.

9. Sorabbi

Sorabbi (atau dalam bahasa lain disebut serabih) menjadi produk kuliner yang khas pulau seribu pesona: Bawean.

Sorabbi ini bukan sembarang serabih. Sorabbi atau disebut juga Serabi Telor merupakan makanan khas gresik berbahan dasar tepung beras dengan campuran air santan kelapa. Bahan itu kemudian dicetak menggunakan wadah tradisional dari tanah liat (gerabah). Makanan khas Melayu ini sudah ada sejak bertahuntahun lalu, berbentuk seperti panekuk, dan paling enak dinikmati saat masih panas.

Kue legit tersebut— kata salah seorang pedagang bernama Maryam— hanya ada di momen tertentu, seperti bulan Ramadan. Kudapan khas tersebut juga sudah jarang ditemukan karena proses pembuatannya yang lama. Apalagi, membuat olahan ini membutuhkan kesungguhan baik pada proses pembuatan maupun bahannya.

Perbedaan Serabi Telur khas Bawean dengan serabi Gresik pada umumnya adalah campuran telur dan gula aren di permukaan. Lapisan putih di pinggiran kue dengan warna kecoklatan di tengah membuatnya nampak seperti telur goreng yang telah matang. Gula aren yang digunakan juga tidak asal masak, harus terlebih dulu diparut supaya dapat cair dengan sempurna.

Nah, inilah beberapa olahan makanan atau kuliner khas Gresik yang hanya akan ditemukan pada bulan Ramadan. Selain tentunya kuliner-kuliner khas lain yang sudah tak asing di pendengaran kita, tentu masih banyak lagi olahan/makanan khas yang bersumber dari kearifan lokal kawasan tertentu dan bermuatan suatu pengetahuan serta dibuat menggunakan teknologi tradisional yang bagian dari peradaban bangsa kita.

Oleh karenanya, semua produk-produk budaya tersebut (baik yang sudah familiar maupun belum) harus diberi tempat untuk sama-sama dapat dilestarikan keberadaannya. Maka, mari kita lakukan bersama.

 

Lestari budayaku, Rahayu !

Oleh : M. Lutfi, Gresik, 7 April 2024

Click to rate this post!
[Total: 0 Average: 0]
Facebook
WhatsApp
Telegram
LinkedIn
Komentar Terbaru

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    🔔 TERKINI

    🔔 INSTAGRAM DKG

    🔔 FACEBOOK DKG

    Arsip
    Kategori

    Dewan Kebudayaan Gresik

    Piye Kabare Dulur ..................